LAPORAN PENELITIAN
PENERAPAN SISTEM
AGRIBISNIS TERHADAP
PENINGKATAN
PENDAPATAN PETANI SAYURAN
DI KABUPATEN ENDREKANG

DI SUSUN OLEH :
I PUTU SUMARIANTO : 2009 12 032
UNIVERSITAS ANDI DJEMMA
PALOPO
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar belakang
Penduduk selawesi selatan umumnya (40,57
%) bekerja sebagai petaninelayan, dengan rata–rata luas lahan pemilikan yang
sempit sekitar 0,25 Ha. (BPS sulsel, 2010), sedangkan Kabupaten endrekang 41,82
% bekerja sebagai petani. Upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dan
pendapatan petani, telah menetapkan program pengembangan usaha agribisnis.
Agribisnis adalah suatu usaha tani
yang berorientasi komersial atau usaha bisnis pertanian dengan orientasi
keuntungan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh agar dapat meningkatkan pendapatan
usahatani ádalah dengan penerapan konsep pengembangan sistem agribisnis
terpadu, yaitu apabila sistem agribisnis yang terdiri dari subsistem sarana
produksi, subsistem budidaya, subsistem pengolahan dan pemasaran dikembangkan
secara terpadu dan selaras.
Menurut Data PDRB sulawesi selatan
(2010) menyebutkan bahwa Pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian terhadap
PDRB di Indonesia paling rendah (2,7%) dibandingkan sektor perdagangan, hotel
dan restoran, dan sektor industri. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa
pembangunan pertanian tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan, padahal
Indonesia adalah negara agraris.
Kelompok tani sayuran di kabupaten
Endrekang maupun kabupaten lainnya, perkembangan usaha taninya tidak berkembang
kearah peningkatan pendapatan, karena petani tidak memiliki komitmen yang
tinggi terhadap keuntungan, melainkan hanya berorientasi terhadap produksi.
Usaha tani berorientasi pada produksi berarti kurang memperhatikan komoditi
yang sesuai, tingkat permintaan, mutu/kualitas, kontinuitas serta kurang memperhatikan
peluang pasar sehingga hasilnya statis.
Permasalahan tersebut antara lain
disebabkan oleh tidak efisiennya usaha tani yang dilakukan, serta kurangnya
akses teknologi pada tingkat petani. Disamping itu iklim investasi yang belum
kondusif bagi para investorm untuk menanamkan modalnya di bidang agribisnis.
Kondisi tersebut secara tidak langsung terjadi karena lemahnya kelembagaan pada
tingkat petani, serta kurang intensifnya penetrasi inovasi teknologi pada
tingkat petani. Kabupaten Baraka sebagai salah satu dari 35 kabupaten/kota di selawesi
selatan mempunyai potensi yang strategis untuk pengembangan agribisnis. Berdasarkan
BPS Kabupaten Baraka tahun 2012 mata pencaharian penduduk kabupaten Baraka
sebagian besar adalah petani, yaitu sebanyak 23.746 jiwa (46,65%) dari jumlah
penduduk Baraka.
Salah satu inovasi teknologi yang saat
ini berkembang di kabupaten Baraka adalah agribisnis sayuran yang diusahakan
dengan sistem diversifikasi yang terdiri dari sayuran yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi (kol bunga, brokoli, tomat, bawang merah). Secara realitas
berkembangnya agribisnis yang dikembangkan di kabupaten Baraka tersebut, adalah
karena adanya pembinaan dari pemerintah melalui tenaga ahli dari penyuluh
pertanian, yang sekaligus sebagai pendamping bagi para petani. Bahkan pada saat
ini pendampingan agribisnis sayuran tersebut berkembang ke 3 wilayah kecamatan
di kabupaten Baraka yaitu Kecamatan endrekang, Kecamatan maiwa dan Kecamatan
anggera. Pada sisi lain agribisnis sayuran tanpa pendampingan tenaga ahli
penyuluh pertanian juga berkembang di kabupaten Baraka. Kondisi ini berarti ada
2 kelompok agribisnis sayuran yang mempunyai potensi menerapkan manajemen yang tidak
sama, sehingga diduga mempunyai pengaruh terhadap pendapatan petani. Penerapan
manajemen tersebut antara lain dalam hal skala usaha, penggunaan sarana
produksi, teknologi budidaya yang diterapkan, penanganan dan pengolahan pasca
panen serta pemasaran hasil.
1.2.
Tujuan penelitian
1.
Mengetahui
mekanisme sistem pendampingan tenaga ahli terhadap pengembangan agribisnis
sayuran di kabupaten baraka.
2.
Mengetahui penerapan sistem agribisnis pada
petani sayuran (program pendampingan
maupun tanpa pendampingan).
3.
Menghitung besarnya tingkat pendapatan
agribisnis sayuran pada tingkat petani.
4.
Menganalisa
pengaruh penerapan sistem agribisnis terhadap pendapatan agribisnis sayuran.
1.3.
Tempat dan
waktu
Adapun
waktu dan tempat dilakukan penelitian yaitu di daerah desa perangian, kecamatan baraka,
kabupaten endrekang, pada tanggal 18
februhari 2012, pukul 10 : 15 WIB, yang terletak di desa pecangian Karena itu tempat yang tepat untuk dilakukan penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Pengertian Sistem Agribisnis
Agribisnis merupakan cara baru melihat
pertanian dalam arti cara pandang yang dahulu dilaksanakan secara sektoral
sekarang secara inter sektoral atau apabila dulu dilaksanakan secara sub sistem
sekarang secara sistem (Saragih, 2007). Dengan demikian agribisnis mempunyai
keterkaitan vertikal dan antar subsistem serta keterkaitan horisontal dengan
sistem atau sub sistem lain diluar seperti jasa–jasa (Finansial dan perbankan,
transpotasi, perdagangan, pendidikan dan lain-lain)
Sistem Agribisnis mencakup 4 (empat)
hal, Pertama, industri pertanian hulu yang disebut juga agribisnis hulu
atau up stream agribinis, yakni industri–industri yang menghasilkan
sarana produksi (input) pertanian seperti industri agro-kimia (pupuk, pestisida
dan obat- obatan hewan), industri agro-otomotif (alat dan mesin pertanian, alat
dan mesin pengolahan hasil pertanian) dan industri pembibitan/perbenihan
tanaman/hewan. Kedua, pertanian dalam arti luas yang disebut juga on
farm agribisnis yaitu usaha tani yang meliputi budidaya pertaniaan tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan kehutanan. Ketiga,
industri hilir pertanian yang disebut juga agribisnis hilir atau down stream
agribusness, yakni kegiatan industri yang mengolah hasil pertanian hasil
pertanian menjadi produk olahan baik produk antara maupun produk akhir. Keempat,
jasa penunjang agribisnis yakni perdagangan, perbankan, pendidikan, pendampingan
dari petugas ataupun tenga ahli serta adanya regulasi pemerintah yang mendukung
petani. dan lain sebagainya. Dari empat unsur tadi mempunyai keterkaitan satu
dan lainnya sangat erat dan terpadu dalam sistem. (Saragih, 2007). Dengan
demikian pembangunan agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian
serta jasa sekaligus. Sampai dengan sekarang berdasarkan realita dilapangan pembangunan
pertanian hanya sepotong-potong dan tidak dilaksanakan secara terpadu,
koordinatif dan selaras.
Indonesia sebagai negara agraris dan
dalam pembangunan pertaniaannya tidak mempunyai daya saing yang kompetetif
dalam era globalisasi saat ini karena belum memiliki industri perbenihan yang
mampu mendukung perkembangan agribisnis secara keseluruhan. Menurut Saragih
(2007) dalam membangun sistem agribisnis pada umumnya benih yang digunakan
petani adalah benih memiliki kualitas rendah sehingga produksi dan kualitas
yang dihasilkan rendah dan benih impor yang digunakan belum tentu dapat dan
sesuai iklim indonesia. Petani Indonesia dalam mengembangkan usahatani agar
menghasilkan produk yang memiliki daya saing yang tinggi, maka usahanya
disesuaikan kondisi iklim dan topografi yang memiliki kekhasan sebagai daerah
tropis, kekhasan ini perlu ditingkatkan mutu dan produktivitasnya. Kendala yang
timbul pada pengembangan agribisnis pada
umumnyan antara lain sumber daya manusia dan teknologi, karena itu perlu adanya
fasilitasi pemerintah dalam bentuk pendampingan.
Pengembangan usaha tanaman sayuran
merupakan peluang dan prospek yang cukup besar dalam peningkatan perekonomian
daerah dan pendapatan petani terutama didaerah dataran tinggi. Menurut Ishaq,et.al.
(2007) dalam pengembangan agribisnis sayuran tehnologi pertanian sangat berpengaruh
terhadap peningkatan pendapatan petani, agar pendapatan dan kesejahteraan
petani meningkat apabila dilaksanakan secaara terpadu dalam sistem agribisnis.
Managemen agribisnis sayuran dalam pengembangan usahanya dilaksanakan melalui
sistem agribisnis secara utuh dari semua subsistem dan saling terkait antara
subsistem satu dan lainnya apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini
(Said,et.al.2007) Faktor kunci dalam pengembangan agribisnis sayuran
adalah peningkat-an dan perluasan kapasitas produksi melalui renovasi,
menumbuh-kembangkan dan restrukturasi agribisnis, kelembagaan maupun
infrastruktur penunjang peningkatan dan perluasan kapasitas produksi diwujudkan
melalui investasi bisnis maupun investasi infrastruktur. Kebijakan revitalisasi
pertaniaan perikanan dan kehutanan adalah pengembangan agribisnis dengan
fasilitasi/dukungan dariaspek tehnologi on farm dan off farm, investasi,
mekanisasi pertanian dan promosi serta pengembngan yang disesuaikan lahan.
Menurut Said et al, (2007),
Fungsi–fungsi agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari pengadaan,
prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu
usaha tani atau agroindustri yang saling terkait satu sama lain. Dengan
demikian agribisnis dapat dipandang sebagai suatu sistem pertanian yang
memiliki beberapa komponen sub sistem yaitu, sub sistem agribisnis hulu, usaha
tani, sub sistem pengolahan hasil pertanian, sub sistem pemasaran hasil
pertanian dan sub sistem penunjang, dan sistem ini dapat berfungsi efektif bila
tidak ada gangguan pada salah satu subsistem.
Faktor pendukung keberhasilan
agribisnis adalah berkembangnya kelembagaan-kelembagaan tani, keuangan,
penelitian dan pendidikan. Menurut hasil kajian pengaruh kelembagaan terhadap
adopsi irigrasi Nono Hartono (2009) terhadap kelembagaan tani di kabupaten
Tasikmalaya menyampaikan bahwa hubungan antara kelembagaan tani belum efektif
dan sangat sederhana dalam pengembangan agribisnis. Menurut Rahardi dalam
cerdas beragribisnis tahun 2006, usaha agribisnis dapat meningkatkan pendapatan
petani bila dikelola dengan sumberdaya manusia yang cerdas dalam mengakses
teknologi, informasi, pasar dan permodalan. Produktivitas padi meningkat karena
pengelolaan usaha tani yang baik.
2.1.1. Subsistem Sarana Produksi
Dalam pengembangan agribisnis sayuran
sarana produksi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan pendapatan petani.
Menurut Said et al. (2007) Untuk mencapai eficiency input– input
sarana produksi harus ada pengorganisasian dalam penerapan sub sistem ini
yaitu penerapan jumlah, waktu, tempat dan tepat biaya serta mutu sehingga ada
optimasi dari penggunaan input–input produksi. Meningkatnya produksi dan
pendapatan petani bila didukung adanya industri-industri agribisnis hulu yakni
indutri–industri yang menghasil-kan sarana produksi (input) pertaniaan (the
manufacture and distribution of farm supliies) seperti industri
agro–kimia ( industri pupuk, industri pestisida, obat-abatan hewan) industri
alat pertaniaan dan industri pembibitan/ pembenihan. Untuk daerah–daerah dekat lokasi
petani ada kios–kios saprodi (Saragih,2007).
Agribisnis modern yang orientasi
pasar, haruslah mampu menghasilkan produk–produk benih yang unggul dan sesuai
agroklimat di suatu kawasan dan produktivitas komoditas, karena dalam mata
rantai produk–produk agribisnis merupakan mata rantai yang sangat penting,
berarti pembangunan industri–industri merupakan salah satu faktor yang dapat
meningkatkan pendapatan petani. Produk impor benih yang marak beredar di
Indonesia terutama benih sayuran yang belum tentu cocok di Indonesia. Sebagai contoh
atribut mangga arumanis yakni aroma, cita rasa, warna, kandungan vitamin,
serat, dan ukuran ditentukan oleh bibit (Saragih,2007).
2.1.2. Subsistem Budidaya
Sayuran merupakan tanaman yang dapat
tumbuh dari dataran rendah sampai dataran tinggi tergantung jenis sayuran
tersebut dapat tumbuh, yang termasuk sayuran dataran rendah adalah Bawang
merah, Cabe, Tomat, Kangkung, Bayam, Kacang Panjang, Koro, Kecipir, terong dan
Sayuran dataran tinggi antara lain Asparagus, Tomat, Akucay, Brokoli, Kai-lan,
Kubis, Lettuce, Buncis, Kapri, To-miau, Coriander, Pare, Bamboo Taiwan, Tang-o,
Bawang merah (ATM_ROC,2009).
Pengembangan agribisnis sayuran
merupakan komoditas yang potensial dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, produktivitas
dan kualitas hasil sangat ditentukan oleh saat tanam, agroklimat, jenis tanah,
penggunaan sarana produksi, teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, dan
pengemasan.serta pemasaran.
Dalam pengembangan usaha agribisnis
sayuran sangat ditentukan oleh kemampuan sumber daya manusia dalam perencanaan
sistem agribisnis dari proses penentuan lokasi dan jenis sayuran yang akan dikembangkan,
sarana produksi, teknologi budidaya, pengelolaan pasca panen, peningkatan nilai
tambah dan pemasaran. Menurut Rahardi (2005) Agroklimat merupakan pertimbangan
yang sangat penting dan merupakan faktor sukses dan tidaknya kegiatan
agribisnis dibandingkan dengan faktor lahan. Faktor agroklimat sulit untuk direkayasa
dengan faktor penentu seperti sinar matahari, hujan, angin, kelembaban dan suhu
udara. Sementara itu tanah yang tidak subur dapat dirubah menjadi subur. Selain
daripada itu faktor tenaga kerja juga sangat menentukan berhasil dan tidaknya
usaha agribisnis sayuran, demikian juga manajemen pengelolaan agribisnis. Kiat memulai
agribisnis agar sukses pertama yang harus diidentifikasi adalah apa yang kita
miliki lahan, atau ketrampilan serta modal, apabila yang dimiliki modal harus
dicari informasi pasar, lahan, dan keahlian. Namun apabila yang dimiliki hanya
lahan harus diupayakan informasi pasar, alternatif modal dan pemilikan keahlian
dan bila yang dimiliki modal maka diperlukan data pasar dan lokasi kegiatan
serta komoditas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Menurut ATM-ROC (2009) Sayuran dataran
tinggi pada umumnya dapat tumbuh baik pada suhu udara sejuk sekitar 250 C – 300
C dengan ketinggian tempat antara 500-1000 mdpl. Tanah yang dibutuhkan adalah
tanah gembur, berpasir dengan kandungan mineral yang tinggi dan drainase yang
sempurna. Benih yang digunakan dengan vigor 85% sedangkan untuk tanaman dataran
rendah dapat tumbuh gengan ketinggian 1–300 mdpl, tanah yang dibutuhkan tanah berpasir,
gembur dengan ph 5,6–6. Pemeliharaan tanaman diselenggarakan dengan menggunakan
pupuk dasar dan pupuk lanjutan atau susulan sedangkan untuk pengendalian hama
dilaksnakan bila diperlukan. Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) pada
sayuran mampu mengurangi penggunaan pestisida cukup signifikan tanpa menurunkan
hasil sehingga keuntunganpun bertambah. Metode diseminasi sistem usaha tani
terpadu berbasis tanaman sayuran dengan pengembangan paket teknologi tumpang
sari tomat, timun, bawangmerah, sawi dan kentang dapat meningkatkan pendapatan petani
sayuran.
2.1.3. Subsistem Pascapanen dan
Pengolahan Hasil
Sayuran merupakan komoditas yang mudah
rusak dan masih mengalami proses hidup (proses fisiologis). Dalam batas-batas
tertentu proses fisiologis ini akan mengakibatkan perubahan-perubahan yang mengarah
pada kerusakan-kerusakan atau kehilangan hasil.
Kerusakan dan kehilangan hasil produk
sayuran akan terjadi dan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas yang terjadi
pada tahap setelah panen sampai dengan tahap produk Siap dikonsumsi, rata-rata kehilangan/kerusakan
hasil produk sayuran kira-kira berkisar 25–40 persen Kehilangan dapat diartikan
sebagai akibat dari perubahan dalam hal ketersediaan, jumlah yang dapat dimakan
yang akhirnya dapat berakibat sayuran tersebut tidak layak untuk dikonsumsi
(P2HP Deptan, 2008). Faktor–faktor yang mempengaruhi kerusakan sayuran saat
setelah panen akibat dari faktor biologi, faktor lingkungan (suhu, kelembaban
dan komposisi atmosfir). Oleh karena itu agar proses pasca panen tidak
menurunkan kualitas perlu ada penganan pasca panen yang baik seperti saat
pemanenan yang baik dan tepat yaitu dengan panen hati-hati agar tidak terjadi
kerusakan fisik, panen saat masak yang tepat, dengan analisa kimia mengukur
kandungan zat pada dan zat asam atau zat pati. Selain itu Proses pemanenan dari
panen, pengumpulan, pembersihan, sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dan
transpotasi dengan metode dan teknik yang benar. Mutu sayuran tidak dapat
ditingkatkan tapi dipertahankan (Muctadi et al, 1995). Buah tomat akan
masak saat berumur 70–90 hari setelah tanam dan sebaiknya dipanen saat pagi
atau sore hari dan dilakukan sortasi terhadap buah yang rusak dan busuk serta
dilakukan pembersihan dan pengemasan serta penyimpanan suhu dingin dengan
kelembaban 95 persen, sebelum dipasarkan dan ada pemisahan antara buah masak
dan kurang masak dan bawang merah siap panen umur 60-75 hari setelah tanam
(ATM-ROC, 2004).
2.1.4. Subsistem Pemasaran
Kunci keberhasilan usaha tani
agribisnis sayuran salah satunya adalah bagaimana mengembangkan peluang dan
strategi serta mencari solusi adanya kendala dan masalah pemasaran komoditas
sayuran. Kelancaran distribusi komoditas sayuran ini sangat perlu mengingat hal
ini akan berpengaruh terhadap tersedianya pasokan dan terciptanya harga yang
wajar. Disamping itu keamanan distribusi di era globalisasi menuntut
terciptanya suatu sistem distribusi yang lebih efektif dan efisien serta harus
mengutamakan selera kepuasan pasar atau konsumen domestik maupun global dengan
demikian sayuran tersebut mempunyai nilai daya saing yang tinggi. Menurut
Antara (2004) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris, tetapi daya
saing Hortikultura/sayuran di Indonesia masih rendah. Daya saing rendah karena
pembinaan pada petani hanya difokuskan pada bercocok tanam, masalah mutu yang
diharapkan pasar baik pasar domestik maupun ekspor terabaikan, sehingga daya
saing rendah apalagi pada era globalisasi ini. Untuk itu peningkatan SDM dan
fasilitasi pemerintah dalam teknologi budidaya, pasca panen, dan peningkatan nilai
tambah serta pengembangan pasar, sangat diperlukan terutamanya kegiatan
pendampingan. Pengembangan hortikultura khususnya sayuran haruslah secara
profesional, artinya adanya pembangunan yang seimbang antara aspek pertanian,
bisnis dan jasa penunjang. Penanganan produksi tanpa didukung dengan pemasaran yang
baik tidak akan memberi manfaat dan keuntungan bagi petani.
Menurut Mubyarto (1989) produk hasil
pertanian dapat bersaing sempurna ada 4 faktor yang harus diperhatikan yaitu 1)
hubungan antara jumlah pembeli dan penjual, 2) sifat barang yang
diperdagangkan, 3) SDM yang dimiliki tentang Mutu produk (sesuai permintaan tidak),
4) kebebasan dalam perdagangan. Pendapatan hasil produk dipengaruhi dari
efisiensi biaya pemasaran.
2.2. Pendampingan sebagai upaya pemberdayaan
masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat adalah proses
dimana masyarakat khususnya mereka yang kurang memiliki akses kepada sumberdaya
pembangunan didorong untuk semakin mandiri dalam mengembangkan perikehidupan
mereka (Suryana,2003) Dalam proses ini masyarakat dibantu untuk mengkaji
kebutuhan, masalah dan peluang dalam pembangunan yang dimilikinya sesuai dengan
lingkungan sosial ekonomi perikehidupan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat
dengan sistem pendampingan merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan
masyarakat agar mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan dalam
suasana keadilan sosial yang berkelanjutan.
Implementasi pemberdayaan itu sendiri
sangat bervariasi dari waktu ke waktu dengan memperhatikan kondisi lapangan dan
globalisasi. Sasaran utama sistem pendampingan ini adalah bagaimana membuka wawasan
kelompok tani yang semula dengan sistem usaha tani produksi menjadi usaha tani
agribisnis yang berorientasi keuntungan. Pendamping harus melakukanpembinaan
dan peningkatan kemampuan serta
ketrampilan petani dalam mengakses sarana produksi, teknologi, pasca panen,
pasar dan permodalan sehingga petani mampu mandiri mengembangkan usaha
agribisnisnya.
Permasalahan yang selalu muncul dalam
program pendamping-an ini adalah berapa lama program ini dijalankan dan apa
sifat pendampingan tersebut sehingga kenyataan di lapangan sering timbul adanya
ketergantungan dari petani karena tidak tuntasnya program pendampingan ini. Pemberdayaan
masyarakat adalah suatu proses perbaikan yang bertujuan untuk memberikan
kemampuan pada siapapun agar mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat. Proses
perbaikan tersebut tidak dapat tercapai tujuan dan sasaran apabila tidak
didukung oleh seluruh stakeholder yang tidak berupaya untuk memperbaiki diri
memahami fakta, memahami kebutuhan, memahami permasalahan serta melakukan aksi
untuk keberman-faatan semua. Untuk dapat meningkatkan efektifitas proses
pemberdayaan masyarakat maka dilakukan pendampingan.
2.3. Pendapatan
Usaha Tani
Sistem agribisnis sebagai rangkaian
kegiatan subsistem-subsistem yang saling mempengaruhi satu sama lain, untuk
subsistem non usahatani yang memegang peranan yang sangat besar dalam sistem
agribisnis di Indonesia maupun negara berkembang lainnya adalah layanan dalam
bidang pengolahan dan pemasaran (Krisnamurti,1992). Pendapatan per kapita dari
kegiatan non usahatani tumbuh sekitar 14 persen per tahun sedangkan dari
kegiatan usahatani hanya sekitar 3 persen per tahun yaitu dengan mengembangkan
kegiatan fungsi–fungsi perdagangan (penyimpanan, pengangkutan, pengolahan,
sortasi, grading dan sebagainya).
Menurut Prawirokusumo (1990) ada
beberapa pembagian pendapatan yaitu (1) Pendapatan kotor (Gross income)
adalah pendapatan usahatani yang Belum dikurangi biaya-biaya, (2) Pendapatan
bersih (net income) adalah pendapatan setelah dikurangi biaya, (3)
Pendapatan pengelola (management income) adalah pendapatan merupakan
hasil pengurangan dari total output dengan total input. Input–input produksi
atau biaya–biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi
serta menjadi barang tertentu atau menjadi produk akhir, dan termasuk
didalamnya dan termasuk didalamnya adalah barang yang dibeli dan jasa yang
dibayar. Ada beberapa konsep biaya dalm ekonomi yaitu 1) Biaya tetap (FC), 2)
Biaya total tetap (TFC), 3) Biaya Variabel (VC) dan 4) Biaya total variabel
(TVC) serta Biaya tunai dan tidak tunai. Biaya tetap (FC) yaitu biaya yang masa
penggunaannya tidak berubah walaupun jumlah produksi berubah (selalu sama) atau
tidak terpengaruh oleh besar kecilnya produksi karena tetap dan tidak
tergantung kepada besar kecilnya usaha maka bila diukur per unit produksi biaya
tetap makin lama makin kecil (turun), yang termasuk biaya tetap dalam usahatani
sayuran antara lain tanah, bunga modal, pajak, dan peralatan.
Biaya Variabel (VC) yaitu biaya yang
selalu berubah tergantung besar kecilnya produksi. Yang termasuk biaya ini
adalah : biaya sarana produksi, biaya pemeliharaan, biaya panen, biaya pasca
panen, biaya pengolahan dan biaya pemasaran serta biaya tenaga kerja dan biaya
operasional. Biaya tunai meliputi biaya yang diberikan berupa uang tunai
seperti biaya pembelian pupuk, benih/bibit, obat obatan, dan biaya tidak tunai
adalah biaya–biaya yang tidak diberikan sebagai uang tunai tetapi tidak
diperhitungkan seperti biaya tenaga kerja keluarga (Prawirokusumo, 1990).
Pendapatan kotor adalah sejumlah uang yang diperoleh setelah dikurangi semua
biaya tetap dan biaya variabel dan pendapatan bersih dihitung dari pendatan
kotor dikurangi pajak penghasilan.
Pendapatan usaha tani adalah besarnya
manfaat atau hasil yang diterima oleh petani yang dihitung berdasarkan dari
nilai produksi dikurangi semua jenis pengeluaran yang digunakan untuk produksi.
Untuk itu pendapatan usaha tani sangat dipengaruhi oleh besarnya biaya sarana
produksi, biaya pemeliharaan, biaya pasca panen, pengolahan dan distribusi
serta nilai produksi.
2.4. Kerangka Pemikiran Teoritis
Keberhasilan pengembangan Agribisnis
Sayuran sangat tergantung dari kemampuan sumberdaya manusia dalam mengembangkan
sistem Agribisnis dari sub sistem agribisnis hulu/sarana produksi, sub sistem budidaya
(on farm), sub sistem pengolahan dan sub sistem pemasaran (off farm)
serta sub sistem penunjang yang diterapkan secara efektif dan efisien sehingga
secara signifikan dapat meningkatkan pendapatan petani sayuran. Permasalahannya
di kabupaten Endrekang umumnya petani memiliki rata-rata lahan sempit (0,25
Ha), orientasi peningkatan pendapatan hanya pada kegiatan subsistem produksi
(budidaya), Kemampuan sumberdaya petani dalam pengembangan agribisnis sayuran
yang rendah, inovasi tehnologi dan akses pasar rendah sehingga posisi tawar rendah.
Disisi lain pembinaan dan pendampingan pemerintah kurang, akibatnya pendapatan
petani sayuran tumpangsari rendah. Di Kabupaten Baraka terdapat dua kelompok
yang berbeda dalam mengembangkan usahatani agribisnis sayuran yaitu kelompok yang
ada pendampingan tenaga ahli dari misi Taiwan dan kelompok tanpa pendampingan.
Untuk itu dilakukan penelitian dengan judul pengaruh penerapan sistem
Agribisnis terhadap peningkatan pendapatan petani di Kabupaten Endrekan. Diduga
dengan Penerapan sistem Agribisnis sayuran dapat meningkatkan pendapatan
petani. Secara detail dapat dilihat pada Gambar 1.
KERANGKA
PEMIKIRAN
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
||||||
![]() |
||||||
![]() |
||||||
Gambar 1 :
Skema Kerangka Pemikiran
2.5. Hipotesis
1.
Diduga
tingkat pendapatan petani sayuran program pendampingan ebih besar dari pada petani sayuran program
tanpa pendampingan.
2.
Diduga
secara serempak maupun secara parsial penerapan sistem agribisnis mempunyai
pengaruh yang nyata terhadap pendapatan agribisnis sayuran pada tingkat petani.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.
Keadaan Umum Kabupaten endrekang
3.1.1.
Letak Geografis dan Wilayah Administratif
Kabupaten Enrekang adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Enrekang. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.786,01 km² dan
berpenduduk sebanyak ± 190.579 jiwa.
Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten
Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena
kebudayaan Enrekang (Massenrempulu') berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar
dan Tana Toraja. Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara
garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di
Massenrempulu', yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan
oleh penduduk di Kecamatan Alla', Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio
dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Enrekang dituturkan oleh
penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan
Anggeraja. Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan
Kecamatan Bungin. Melihat dari kondisi sosial budaya tersebut, maka beberapa
masyarakat menganggap perlu adanya penggantian nama Kabupaten Enrekang menjadi
Kabupaten Massenrempulu', sehingga terjadi keterwakilan dari sisi sosial
budaya.
Berdasarkan PP No. 34 Tahun 1962 dan Undang-Undang NIT
Nomor 44 Tahun 1960 Sulawesi terpecah dan sebagai pecahannya meliputi
Administrasi Parepare yang lebih dikenal dengan nama Kabupaten Parepare lama,
dimana kewedanaan Kabupaten Enrekang adalah merupakan salah satu daerah di
antara 5 (lima) Kewedanaan lainnya.
Selanjutnya dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29
Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 74 tentang Pembentukan Daerah
Tingkat II di Sulawesi) atau daerah Swatantra Tingkat II (DASWATI II), maka
Kabupaten Parepare lama terpecah menjadi 5 (lima) DASWATI II, yaitu:
1. DASWATI II ENREKANG
2. DASWATI II SIDENRENG RAPPANG
3. DASWATI II BARRU
4. DASWATI II PINRANG
5. DASWATI II PARE PARE
Kelima gabungan dearah tersebut dari dulu dikenal
dengan nama Afelling Parepare.
Dengan terbentuknya DASWATI II Enrekang berdasarkan
Undang-Undang Nomor: 29 Tahun 1959 tentang Pemerintahan Daerah, maka sebagai
tindak lanjutnya pada tanggal 19 Februari 1960, H. ANDI BABBA MANGOPO dilantik
sebagai Bupati yang pertama dan ditetapkan sebagai hari terbentuknya DASWATI II
Enrekang atau Kabupaten Enrekang.
Sehubungan dengan ditetapkannya Perda Nomor: 4, 5, 6
dan 7 tahun 2002 pada tanggal 20 Agustus 2002 tentang pembentukan 4 (empat)
Kecamatan Definitif dan Perda Nomor 5 dan 6 Tahun 2006 tentang pembentukan 2
kecamatan sehingga pada saat ini di Kabupaten Enrekang telah memiliki 12 (dua
belas) kecamatan yang defenitif, yaitu:
·
Kecamatan Buntu Batu, ibukotanya Pasui, hasil
pemekaran dari Kecamatan Baraka, diresmikan
pada tanggal 19 Januari 2007.
Selanjutnya
dari 12 (dua belas) kecamatan defenitif terdapat 112 (seratus dua belas)
desa/kelurahan, yaitu 17 kelurahan dan 95 desa. Adapun jumlah penduduk
Kabupaten Enrekang pada tahun 2008 berjumlah sekitar 186.810 jiwa, terdiri dari
laki-laki sebanyak 93.939 jiwa dan perempuan sebanyak 92.871 jiwa dengan jumlah
kepala keluarga sebanyak 43.062.
3.1.2. Iklim
dan Topografi
Kabupaten Endrekang dengan luas
Wilayah 1.786,01 km² yang terdiri dari tanah sawah
dengan luas 86,1264 Ha (22,54 %) dan Tanah kering seluas 37,0691 Ha (77,46 %),
Potensi pengembangan Sayuran 8.180 Ha Untuk Kecamatan Endrekan merupakan salah
satu Kecamatan yang memiliki topografi hampir sama dengan Baraka yang terletak
dilereng Gunung dan Maiwang memiliki
Luas Wilayah 37,80 Ha, yang terdiri dari 99,37 % tanah kering dengan luas 7,40
Ha dan tanah sawah 0,63 5 dengan luas 30,4 Ha dan Kecamatan endrekang luas
wilayah 49,80 Ha terdiri dari 98,99 % tanah kering dengan luas 5.244,00 Ha dan
luas Sawah 1,01 % atau seluas 55,80 Ha. Jenis tanah Kabupaten Endrekang sangat
variatif, dari 19 Kecamatan terdiri dari tanah asosiasi litosol dan grumosol,
Litosol Cokelat, Regusol Kelabu, litosol, regusol kelabu, regosol coklat, andosol
coklat, kompleks regusol kelabu, grumosol kelabu tua, komplek andosol kelabu
tua, asosiasi grumosol kelabu tua, dan mediteran coklat tua, dari aneka jenis
tanah tersebut Kecamatan Maiwa dan Anggaraja terdapat jenis tanah litosol
coklat, regusol kelabu, regusol coklat, andosol coklat, dan kompleks andosol
kelabu. Topografi dengan ketinggian antara 75-1.500 dpl, untuk Kecamatan
Endrekan 1.200-1.500 dpl dan anggeraja terletak di topografi 1.000–1.300 dpl.
Kecamatan Endrekang jumlah curah hujan
tergolong cukup tinggi pada tahun 2007 yaitu 3.058 mm dengan jumlah hari hujan
mencapai 110 Hh.dengan type iklim sedang (BPS Kecamatan Endrekang, 2011). Adapun
Kecamatan Selo termasuk iklim tipe C dengan jumlah curah hujan tergolong cukup
sedang pada tahun 2010 yaitu 2.786 Mm dengan jumlah hari hujan mencapai 109 Hh.
( BPS Kecamatan Maiwa, 2011).
3.1.3. Kondisi Sosial dan Ekonomi Penduduk
Adapun
jumlah penduduk Kabupaten Enrekang pada tahun 2008 berjumlah sekitar 186.810
jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 93.939 jiwa dan perempuan sebanyak 92.871
jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 43.062. Pertumbuhan penduduk rata-rata per
tahun 0,30 % dengan sex ratio 95,78 dengan demikian jumlah perempuan lebih
banyak dari pada laki–laki. Untuk Kecamatan Endrekang tingkat kepadatan
penduduk lebih kecil sebesar 79 jiwa per km2 dibandingkan kecamatan maiwa
sebesar 64 Jiwa per km2 berarti penduduk selo lebih kecil dengan luas lahan
lebih luas dibandingkan Kecamatan Endrekang.
Mata
pencaharian penduduk Kabupaten Endrekang didominasi pertanian sebesar 41,82%
diikuti, lainnya 39,30 %, jasa 6,68% dan perdagangan 6,52%. Kecamatan Mawai
matapencaharian didominasi Pertanian dan peternakan sebesar 65,40 % diikuti
lainnya 17,44 % dan jasa 5,62 % dan perdagangan 1,27 %, sedangkan Kecamatan Anggera
juga didominasi pertaniaan sebesar 65,35 % diikuti lainnya sebesar 17,45% dan
diikuti industri pengolahan sebesar 5,62 %. Sektor-sektor yang mempunyai
sumbangan terbesar tahun 2006 baik atas dasar harga berlaku (ADHB) maupun atas
dasar harga konstan (ADHK) adalah sektor pertaniaan 34,21 % ADHB dan 35,84 ADHK
diikuti sektor perdagangan sebesar 25,84 % ADHB dan 25,49 % ADHK baru industri 17,36
% ADHB dan 16,18 % ADHK.
3.1.4. Keadaan Usaha Tani Sayuran
Dalam Pembangunan Pertanian khususnya
sayuran Kabupaten Endrekan telah
disesuaikan kondisi topografinya. Dari 19 kecamatan sesuai jenis dan topografi
baik ketinggian maupun jenis tanahnya. Sayuran yang telah dikembangkan di
Kecamatan Baraka dan Maiwang adalah Sayuran dataran tinggi, Periode tanam pada
bulan Oktober sampai bulan Maret sistem usahatani tumpangsari dan saat
penelitian tumpangsari bawang merah dan tomat.
Menurut ATM-ROC,2008 tanaman tomat
akan tumbuh baik pada suhu antara 16-26 derajad Celcius dan Bawang merah dapat
tumbuh pada suhu 25 derajad Celcius.
Kecamatan Baraka dan Maiwang merupakan
sentra produksi sayuran dataran tinggi di Kabupaten Boyolali, dengan komoditi sayuran
yang beraneka ragam dan ditanam baik secara monokultur maupun campuran atau
tumpang sari, sayuran ditanam pada lahan yang berbukit-bukit dengan kemiringan
lahan dari agak datar sampai terjal. Usaha tani ini sudah cukup lama, cara
usaha tani antara petani cepogo dan selo berbeda, karena di selo petani
mengusahakannya dengan bimbingan misi Taiwan baik dari cara budidaya, pasca
panen dan pengemasan serta pemasaran, sangat berbeda dengan cepogo yang masih
tradisional karena tidak ada pendampingan.
Menurut Ishaq, at. Al. (2002)
produksi tanaman sayuran dataran tinggi akan meningkat dengan baik bila
dikelola dengan teknologi yang benar, teknologi yang harus diterapkan antara
lain penggunaan benih unggul, cara pemupukan yang berimbang, penggunaan
pestisida yang tepat dan penanganan pasca panen yang benar. Untuk Kabupaten
Endrekang menurut laporan petugas lapangan, petani pada umumnya belum
menerapkan teknologi budidaya sampai pasca panen karena kemampuaan SDM dan
permodalan, maka produksi belum dapat optimal.
3.1.5. Kebijakan Pengembangan Agribisnis
Penduduk Kabupaten Endrekang 46,65 %
bekerja sebagai petani/ peternak maupun pekebun, maka pemerintah kabupaten
Endrekang komitmen terhadap pembangunan pertanian secara luas, Ada tiga program
pembangunan pertanian salah satunya adalah program agribisnis. Konsep
pembangunan agribisnis belum dilaksanakan secara terpadu, hal ini dapat
ditunjukkan dari data ekspor yang belum nampak nyata ada, berarti masalah pasar
belum digarap dengan baik, demikian pula pengadaan benih unggul khususnya
tanaman sayuran, teknologi belum diterapkan dengan baik kecuali pada wilayah
yang ada pendampingan Taiwan, karena menurut laporan petani bahwa penyuluhan
pertanian belum berjalan dengan baik.
Sajad (2009) konsekuensi daerah
otonomi harus mempunyai komitmen yang tinggivdalam menggerakkan perekonomiaan
masyarakatnya pertamavmengembangkan pola– pola agribisnis yang pelaksanaannya
tidak hanya target persubsistem tapi merupkan sebuah sistem agribisnis yaitu
masing–masing subsistem antar subsistem terjadi “harmonious orderly
interaction” dan agribisnis yang dibangun merupakan bentuk “social
economic organization” yang berorientasi bisnis, kedua pembangunan
agribisnis di daerah otonom dimulai dengan dibangunnya subsistem hilir yang
merupakan niaga produk agroindustri (pasar dan jaringannya) dan proses
industrinya (benih, pupuk, pestisida, alat kemas) yang digunakan sebagai
pendukung kegiatan on farm, dan ketiga konsolidasi lahan pertanian sebagai
akibat niaga industri, selanjutnya dibangun sumber daya manusia yang
profesional. Dengan demikian pembangunan subsistem dari hulu sampai hilir
secara terpadu, terkoordinasi dalam operasionalnya dengan petugas lapangan sebagai
pendamping petani yang profesional Petani sebagai sdm pertanian harus
dirangsang untuk menjadi dialektis artinya jangan hanya produksi sebagai final
tapi ada pemikiran bagaimana mutu yang dibutuhkan pasar.
Sedangkan saat peneliti melakukan
pengamatan dari data dinas terkait kurang memadai, Fasilitas penunjang
agribisnis sayuran sangat terbatas seperti fasilitas benih unggul kurang,
petani membeli benih lokal, Balai Benih Sayuran tidak ada, pupuk langka dan fasilitas
pasar belum baik dan petugas penyuluh kurang profesional dari hasil laporan
petani tidak pernah ada penyuluh datang. Di Kabupaten Endrekang ada tenaga ahli
Taiwan yang berfungsi sebagai pendamping petani masih terbatas hanya satu dan
baru membina di Kecamatan Endrekang, Baraka dan Maiwang, Endrekang Kota (Bugis)
dan Makasar, sehingga di Kecamatan ini cara budidaya dan pemasaran berbeda dengan
kecamatan lain.
3.1.6. Sistem Pendampingan Tenaga Ahli
Misi teknik Penyuluh pertanian adalah
tenaga ekspert di bidang pertanian. Adapun Program dan kegiatan mereka melakukan
pemberdayaan terhadap petani. Untuk meningkatkan usaha tani Sayuran di
kabupaten Endrekang di pilih Kecamatan Endrekang, Baraka, Maiwa dan anggeraja
karena daerah tersebut sangat cocok untuk pengembangan Sayuran, dari hasil
laporan bapak salim dikatakan bahwa mereka melakukan pemberdayaan dari kegiatan
subsistem pra produksi, budidaya, pasca panen, pengemasan dan pemasaran. Metode
pembinaan tenaga ahli dengan pemberian percontohan, pelatihan (budidaya, pasca
panen dan penanganan mutu sayuran, promosi hasil sayuran ke pusat–pusat
konsumen dan pengembangan pasar). Pada tahun pertama sampai tahun 20111 tenaga
ahli yang di tempatkan di kabupaten Endrekang adalah yang ahli dibidang
Pertanian dan saat dilakukan penelitian tenaga ahli yang ada adalah dari tenaga
pemasaran karena petani meminta tenaga tersebut. Sistem pendampingan dilakukan
dengan peningkatan SDM melalui pelatihan dan membentuk Aspakusa (Asparagus,
kucai dan sayuran) kelompok ini merupakan kelompok bersama yang tergabung dari
4 (empat) kecamatan binaan Tenaga ahli. Pelatihan dilakukan berdasarkan permasalahan
di kelompok misalkan saat sekarang dilatih cara budidaya pangan organik yang
baik karena permintaan pasar, dalam hal ini petani dilatih dari cara budidaya .
Setiap bulan dilakukan pertemuan dalam kelompok bodi 1 untuk membahas hasil
penjualan, informasi permintaan pasar dan menampung permasalahan untuk di
pecahkan. Kelompok Aspakusa ini adalah kelompok petani sayuran yang merupakan kelompok
bisnis, dalam organisasi ini dibentuk pengurus yang terdiri dari ketua,
sekretaris, bendahara, seksi pemasaran dan seksi produksi.
Dari laporan Ketua salim bahwa
kelompok ini setiap bulan merencanakan produksi, pemasaran mengelola keuangan
dan mampu membayar tenaga kerja untuk penanganan sortasi, pengemasan dan pengepakan,
saat wawancara pada bulan juli simpanan kelompok sudah mencapai 20 Juta (uang
kelompok yang dikumpulkan dari anggota 0,5 % dari hasil penjualan). Fasilitasi
Tenaga ahli misi Taiwan selain pelatihan dan bantuan pemecahan masalah juga pemberian
gudang penyimpanan berupa colt Storage, dan bantuan bagaimana hubungan dengan
pasar modern seperti Carefure, Solo square. Dan pasar tradisional. Sistem
pendampingan dapat dilihat gambar 3. terlampir.
3.1.7. Keadaan Umum Responden
Keadaan umum responden yang
diidentifikasi dari umur, tingkat pendidikan, jumlah keluarga dan pengalaman
berusahtani, mata pencaharian, jenis sayuran ditanam selengkapnya dapat dilihat
pada Lampiran 1. Dilihat dari segi umur sebanyak 60 persen responden berumur
41-50 tahun untuk kelompok mandiri, dan Untuk kelompok pendampingan responden
terbanyak pada umur 21-30 tahun sebanyak 30 persen dan pada umur 31- 40 tahun
juga sebanyak 30 persen, berarti kelompok petani pendampingan pada umumnya
petaninya lebih muda dibandingkan petani mandiri. Sedangkan dilihat dari mata pencahariannya
responden pendampingan 100 persen murni sebagai petani dan responden mandiri 55
persen sebagai petani murni, 35 persen campuran sebagai petani dan PNS dan
campuran petani/pedagang 10 persen. Adapun segi pengalaman bertani, petani pendampingan
lebih berpengalaman (11-15 tahun) dibandingkan petani mandiri (5-10 tahun),
pengalaman adalah guru yang baik (Baraka,1997). Adapun jenis Sayuran yang
ditanam pada umumnya setiap responden menanam aneka Sayuran dan saat penelitian
jenis sayuran yang ditanam tumpang sari Tomat dan Bawang merah pada periode
Oktober sampai Maret lainnya hanya sebagian kecil dan ditanam dipekarangan.
Data identitas Responden di Kabupaten Endrekang dari hasi wawan cara kami
kepada petani yaitu sebagai berikut :
Ø Respondes 1
Nama : pata
juba
Umur : 34
tahun
Alamat : desa perangian
Jumblah
keluarga : 6 orang
Hasil
1.
Komoditi
Ø Bawang merah
2.
Lahan
Ø Milik sendiri : 1
hetar
3.
Pengelolahan
lahan
Ø Mesin : dompeng atau kultifakto
Ø Tenaga kerja : buruh,
harian, dan borongan.
Ø Biaya : Rp.500.000,-
4.
Benih
Ø Benih : bima,
porbolinggo, brebes, dan surawaja.
Ø Luas lokasi : 1
hetar
Ø Milik sendiri : beli
Ø Berap biayanya : Rp.15.000.000,-
Ø Bibit : unggul
di tanam langsung
5.
Pemeliharaan
Ø Penyiangan : 21
hasil
Ø Penyulaman : 2
minggun
Ø Tenanga kerja : borongan,
perorangan
6. Hama dan penyakit
Ø Hama : ulat tanah, ulat daun, ulat
grayak
Ø Racun : gooel, dengker
7. Pupuk
Ø Jenis pupuk : tai ayam,
urea, sp36, dan npk
Ø Kapan : sebelum tanam tai ayam dan sp36, setelah tanam urea dan npk.
8. Paska panen
Ø Cara panen
- Alat : cabut
- Tenanga : buruh
- Sistem :
borongan, harian, dan gotong royong.
- Biaya :
gajih
9. Analisis biaya
Ø Biaya tetap : tidak
ada karena lahan milik sendiri
Ø Biaya variabel : Rp.15.000.000,-
Ø Total biaya : Rp.15.000.000,-
10. Penerimaan
Ø Berapa hasil : 10-15
ton
Ø Berapa kali penanaman : 1
kali panen
Ø Di jual kemana : di
pasar
Ø Berapa harganya : Rp.5.000,-perkilogram
Ø Respondes 2
Nama : salim
Umur : 30
tahun
Alamat
: desa perangian
Jumblah
keluarga : 4 orang
Hasil
1. Komoditi
Ø Bawang merah
2.
Lahan
Ø Sewa : 1
hetar
3.
Pengelolahan
lahan
Ø Mesin : dompeng atau kultifakto
Ø Tenaga kerja : buruh,
harian, dan borongan.
Ø Biaya : Rp.500.000,-
4.
Benih
Ø Benih : bima,
porbolinggo, brebes, dan surawaja.
Ø Luas lokasi : 1
hetar
Ø Milik sendiri : beli
Ø Berap biayanya : Rp.15.000.000,-
Ø Bibit : unggul
di tanam langsung
5.
Pemeliharaan
Ø Penyiangan : 21
hasil
Ø Penyulaman : 2
minggun
Ø Tenanga kerja : borongan,
perorangan
6. Hama dan penyakit
Ø Hama : ulat tanah, ulat daun, ulat
grayak
Ø Racun : gooel, dengker
7. Pupuk
Ø Jenis pupuk : tai ayam,
urea, sp36, dan npk
Ø Kapan : sebelum tanam tai ayam dan sp36, setelah tanam urea dan npk.
8. Paska panen
Ø Cara panen
- Alat : cabut
- Tenanga : buruh
- Sistem :
borongan, harian, dan gotong royong.
- Biaya :
gajih
9. Analisis biaya
Ø Biaya tetap : Rp.5.000.000,-
Ø Biaya variabel : Rp.15.000.000,-
Ø Total biaya : Rp.20.000.000,-
10. Penerimaan
Ø Berapa hasil : 10-15
ton
Ø Berapa kali penanaman : 1
kali panen
Ø Di jual kemana : di
pasar
Ø Berapa harganya : Rp.5.000,-perkilogram
Ø Respondes
Nama : pata
juba
Umur : 40
tahun
Alamat
: desa perangian
Jumblah
keluarga : 8 orang
Hasil
1.
Komoditi
Ø Bawang merah
2.
Lahan
Ø Sewa : 1
hetar
3.
Pengelolahan
lahan
Ø Mesin : dompeng atau kultifakto
Ø Tenaga kerja : buruh,
harian, dan borongan.
Ø Biaya : Rp.15.000.000,-
4.
Benih
Ø Benih : bima,
porbolinggo, brebes, dan surawaja.
Ø Luas lokasi : 1
hetar
Ø Milik sendiri : beli
Ø Berap biayanya : Rp.15.000.000,-
Ø Bibit : unggul
di tanam langsung
5.
Pemeliharaan
Ø Penyiangan : 21
hasil
Ø Penyulaman : 2
minggun
Ø Tenanga kerja : borongan,
perorangan
6. Hama dan penyakit
Ø Hama : ulat tanah, ulat daun, ulat
grayak
Ø Racun : gooel, dengker
7. Pupuk
Ø Jenis pupuk : tai ayam,
urea, sp36, dan npk
Ø Kapan : sebelum tanam tai ayam dan sp36, setelah tanam urea dan npk.
8. Paska panen
Ø Cara panen
- Alat : cabut
- Tenanga : buruh
- Sistem :
borongan, harian, dan gotong royong.
- Biaya :
gajih
-
9. Analisis biaya
Ø Biaya tetap : Rp.5.000.000,-
Ø Biaya variabel : Rp.15.000.000,-
Ø Total biaya : Rp.15.000.000,-
10. Penerimaan
Ø Berapa hasil : 10-15
ton
Ø Berapa kali penanaman : 1
kali panen
Ø Di jual kemana : di
pasar
Ø Berapa harganya : Rp.5.000,-perkilogram
3.2. Output usaha tani
Hasil Produksi 15.000 Kg X Rp. 5000,-= Rp. 75.000.000,-
3.3.
Provit
usaha tani
Keuntungan Rp. 75.000.000,- – Rp. 15.000.000,- = Rp. 60.000.000,-
B/C Ratio = 75.000.000,- / 15.000.000,- = 24,933
BAB IV
KESIMPULAN DAN
SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang
pengaruh sistem Agribisnis terhadap pendapatan petani sayuran bawang dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1.
Mekanisme
pendampingan misi teknik Penyuluh pertanian dengan pemberdayaan petani melalui
kelompok tani Asparagus, Kucai dan Sayuran (Kelompok tani Aspakusa) telah
dilaksanakan dengan baik dan pada subsistem pemasaran belum efisien.
2.
Penerapan
sistem agribisnis sayuran di kelompok responden pendampingan telah dilaksanakan
dengan baik dan kelompok tanpa pendampingan belum dilaksanakan dengan baik.
3.
Pendapatan
rata–rata petani sayuran per hektar per musim tanam (Oktober-April) petani
pendampingan lebih tinggi (Rp 60.000.000,-)
4.
Penerapan
subsistem agribisnis hulu, subsistem usahatani, pengolahan hasil dan Model
Usahatani, baik secara parsial maupun serempak berpengaruh nyata terhadap
Pendapatan pada tingkat petani. Dan subsistem pemasaran tidak berpengaruh nyata
terhadap pendapatan petani sayuran. Pendapatan petani pendampingan lebih besar dibandingkan
petani tanpa pendampingan.
4.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian,
dapat disarankan bahwa :
1.
Penerapan
sistem agribisnis sayuran di kelompok tani Bodi 1 (asparagus, kucai dan
sayuran) hasil binaan Penyuluh pertanian dan bukan binaan, difasilitasi
pemerintah dalam peningkatan sumberdaya manusia dan dilakukan pendampingan dari
subsistem sarana produksi, usahatani/budidaya, pengolahan, pemasaran dan jasa
penunjang dengan peningkatan fasillitas pasar, Bank, penelitian, pelatihan dan pendampingan,
sehingga bila sudah tidak ada pendampingan tidak terjadi penurunan pendapatan.
2.
Untuk
meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana produksi dan teknologi
usaha tani perlu ada koordinasi antara peneliti, penyuluh dan pemerintah
daerah.
3.
Dalam
pengembangan agribisnis sayuran berlahan sempit sebaiknya dilakukan penguatan
kelembagaan dan fasilitasi kepada kelembagaan agribisnis sayuran petani, dengan
dilakukan pembinaan dalam penguatan kelembagaan seperti kelompok aspakusa,
koperasi dll.
4.
Petani
disarankan untuk menerapkan sistem agribisnis dari hulu sampai hilir dengan
efektif dan efisien serta menerapkan sistem jaminan mutu dengan penerapan
Standart Operasional Prosedur dengan benar.
DAFTAR PUSTAKA
AAk,
2004. Pedoman Bertanam Bawang, Kanisius, Yogyakarta. Hlm 18. BPPT, 2007 .
Teknologi budidaya Tanaman Pangan.
htpp//www.iptek.net.id/ind/tekn
ologi-pangan/index.php id=244.Diakses 11 Januari 2012.
Deptan.
2012 .
Pengenalan Dan Pengendalian Beberapa OPT Benih Hortikultura.
______,
2012 .
Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah. c
Irwan, 2012. Bawang Merah dan
Pestisida.
http://www.waspada.co.id/serba-serbi/kesehatan/artikel
php article-id=7849811 .
Diakses
21 Februari 2007. H U U H
Moekesan.T.K.,
Prabaningrum, L., dan Meitha, L.R., 2000. Penerapan PHT.
Pada system Tanaman Tumpang gilir. Bawang merah dan cabai.. Balai Penelitian
Tanaman Sayuran Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian
Dan Pengembangan Pertanian, Jakarta Hlm 8-10, 30.
Rukmana, R, 1995. Bawang merah
Budidaya Dan Pengolahan Pasca panen. Kanisius, Jakarta, Hlm 18.
Rahayu,
E, dan Berlian,N. V. A, 1999. Bawang Merah. Penebar swadaya, Jakarta, Hlm4.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar